Kalender Acara Autisme ABA BIT
Seminar Intervensi Dini Autisme
ABA (Applied Behavior Analysis)
dan BIT (Biomedical Intervention Therapy)
Halaman Kalender Acara ini telah dibaca 11703 kali, sejak 30 Juni 2012 jam 17:34:44
Terakhir Dibaca: 03 April 2025, jam 10:11:50 WIB (Indonesia Western Time = GMT + 7)
Seminar Intervensi Dini Autisme
ABA (Applied Behavior Analysis)
dan BIT (Biomedical Intervention Therapy)

Acara, Informasi, Pendaftaran, Biaya, Contact Person (Person In Charge), Uraian (Detail), Keterangan, dll
Autisme...? Siapa Takuuut...?!
Autism Is Curable ! Autism Is Treatable ! Autisme Bisa Sembuh !
Pembicara:
- LizaR Sutadi
Praktisi ABA (Applied Behavior Analysis)
Pendiri KID ABA (Klinik Intervensi Dini Applied Behavior Analysis)
MC / Pembawa Acara:
- Hasan Al Faris
14 tahun, Mantan Penyandang Autisme
Yang berhasil sembuh setelah ditangani dengan ABA
Saat ini bersekolah di sekolah reguler,SMP Al-Fikri, Kelas 1 (satu)
Sharing Orangtua:
- IbuDeswita
Menjalankan ABA 40 jam/minggu, untuk anak autistiknya, pada tahun 2002 s/d 2004
Saat ini putranya sudah berumur 14 tahun, kelas 1 SMA sekolah reguler di Jakarta
Biaya:
- Untuk Umum: Rp.200.000,-
- Untuk Mahasiswa: Rp.100.000,-
- Transfer ke: BNI Makasar
Nomor Rekening: 00668.70886
Atas nama: Novy Nur Rahmillah Ayu
Mohon cantumkan nama dan nomor telpon
Informasi dan Pendaftaran:
- Novy: 0813-146-11493
- Susi: 0853-9611-8027
- Fika: 0852-5565-3658
- AWANI Autism Aware House: 0411-845-082
AUTISME BISA SEMBUH ????? ...banyak kontroversi akan pendapat ini. Padahal... banyak sekali penyandang autisme yang dapat dikatakan "sembuh".
Seorang anak autistik dikatakan "sembuh" jika mereka dapat mengikuti sekolah reguler, kemudian berkembang tidak berbeda dengan anak-anak lain seusianya/sepantarannya, yang akhirnya mereka dapat hidup mandiri di masyarakat dengan tidak tampak gejala sisa, sehingga sering tidak ada yang menduga bahwa seseorang adalah "mantan penyandang autisme".
Namun kunci keberhasilan kesembuhan anak-anak autistik yaitu intervensi dini dengan ABA dan BIT (Applied Behavior Analysis dan Biomedical Intervention Therapy). Yaitu intervensi dimulai sebelum usia 3 (tiga) tahun, dimana semakin muda dari 3 tahun tersebut maka hasil yang diperoleh akan semakin baik, sehingga pada usia 5 (lima) tahun sudah menguasai bahasa (perhatikan tentang menguasai bahasa, bukan hanya bisa berbicara, mohon bedakan dengan jelas antara kemampuan bicara dengan kemampuan bahasa).
Memang pada beberapa mantan penyandang autisme kadang ada gejala sisa, namun tidak tampak atau tidak diperhatikan atau tidak diketahui oleh masyarakat sebagai gejala sisa. Namun dengan mengutip pendapat dari Prof. Rimland, yaitu seorang ahli dalam bidang autisme di Amerika, sesuai pepatah
“If it looks like a duck, walks like a duck, quacks like a duck,
it must be a duck”
maka analoginya pada "mantan" penyandang autisme ini yaitu
“If they look recovered, are thought to be recovered,
(that means) they are recovered”
Jika seorang anak didiagnosis autisme/autistik, maka hal berikutnya yang sangat penting adalah intervensi/terapi pada anak, yaitu 2 terapi utama : ABA (Applied Behavior Analysis) dan Biomedical Intervention Therapy (BIT).
Sebagaimana yang dinyatakan pada tahun 1997 oleh US Department Of Health dan NYSDOH (New York State Department Of Health, “ABA is the only intervention recomended in autism”.
Dan juga oleh AAP (American Academy Of Pediatrics, 2007) “the benefit of ABA-based interventions in autism spectrum disorders (ASDs) ‘has been well documented’ and that ‘children who receive early intensive behavioral treatment have been shown to make substantial, sustained gains in IQ, language, academic performance, and adaptive behavior as well as some measures of social behavior’.”
Sedangkan selain ABA dan Biomedical Intervention, terapi-terapi lainnya merupakan terapi tambahan hanya jika diperlukan saja.
ABA (Applied Behavior Analysis) merupakan intervensi dalam pengajaran dan pelatihan anak autistik, sedangkan Biomedical Intervention Therapy merupakan manajemen mediknya.
Kedua hal ini sering diibaratkan dengan komputer, yaitu adanya perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software, operating system). ABA merupakan software yang canggih, ibarat Windows 7 (Seven) hanya bisa dijalankan dengan baik minimal pada komputer pentium generasi kelima (dan lebih baik lagi pada minimal komputer i3 dengan 64-bit), tidak mungkin dijalankan pada komputer XT/AT. Nah, untuk meng-upgrade kemampuan "komputer anak", dilakukan Biomedical Intervention Therapy (BIT).
ABA (Applied Behavior Analysis) yaitu suatu ilmu terapan perilaku untuk mengajarkan dan melatih seseorang agar menguasai suatu/berbagai kemampuan yang sesuai dengan standar yang ada di masyarakat. Penggunaan ABA tidak hanya terbatas pada autisme saja, tetapi sangat luas diterapkan dalam berbagai bidang, yaitu misalnya olahraga, manajemen, pendidikan, vocational-skill (keterampilan misalnya dalam pendidikan pilot pesawat terbang), dlsb.
Kelebihan ABA untuk penyandang autisme antara lain (tapi tidak terbatas pada ini saja), yaitu kurikulum yang sistematik, terstruktur dan terukur.
- Sistematik yaitu terapi dimulai dari tingkat kemampuan anak saat assessment (penilaian/pemeriksaan) dibuat, dan apakah prasyarat untuk mengajarkan/ melatih aktivitas/program/kurikulum bersangkutan sudah dikuasai oleh anak, bila belum maka diajarkan/dilatih terlebih dahulu prasyaratnya.
Kemudian, setelah suatu aktivitas dikuasai, dilanjutkan dengan aktivitas berikutnya yang sudah jelas urutan-urutan/tahapannya sampai program/ kurikulum berakhir/selesai yaitu anak masuk ke dalam mainstreaming (yaitu anak masuk sekolah reguler, berkembang seperti anak lain sepantarannya, dan kemudian bisa hidup mandiri di masyarakat). - Terstruktur, yaitu dalam mengajarkan/melatih suatu aktivitas/program/ kurikulum, digunakan berbagai teknik terapan yang telah diteliti dan dikembangkan oleh para ahli dan praktisi ABA.
- Terukur, yaitu digunakan lembar penilaian sehingga kita semua bisa dengan yakin mengatakan bahwa anak telah bisa/menguasai suatu aktivitas/ program/kurikulum ataukah belum.
BIT (Biomedical Intervention Therapy), terdiri atas restrictive-diet, medikamentosa (obat-obatan), dan suplemen. Diet dilakukan terhadap berbagai makanan/bahan makanan apapun yang diketahui mempunyai efek yang tidak baik pada anak.
Diet utamanya terhadap susu dan terigu yang disebut CFGF (Casein Free, Gluten Free) diet. Oleh karena terdapat masalah genetik pada penyandang autisme, maka protein casein dari susu dan bahan gluten dari terigu tidak seluruhnya dicerna secara sempurna. Protein casein yang berupa rangkaian dari asam-asam amino normalnya dipecah habis menjadi 1 cincin asam amino saja. Namun pada penyandang autisme banyak yang masih terdiri dari 2/3/lebih asam-asam amino, yang disebut sebagai peptida (peptide) yaitu dipeptida, tripeptida, dst.
Normalnya peptida-peptida ini tidak diserap oleh usus oleh karena merupakan molekul yang relatif besar dibandingkan "pori-pori" usus. Namun pada penyandang autisme, terjadi kerusakan pada dinding usus yang disebabkan oleh air raksa (merkuri) dari pengawet vaksin, ataupun karena virus campak dari vaksin Campak/MMR, ataupun karena terjadinya overgrowth (pertumbuhan berlebihan) pada jamur, maka terjadi suatu kondisi yang disebut hiperpermeabilitas (peningkatan permeabilitias/daya serap usus).
Hal ini bisa kita ibaratkan dengan saringan santan. Normalnya parutan kelapa tidak dapat menerobos saringan, tetapi hanya santannya saja yang bisa lewat. Namun jika terjadi pelebaran pada lubang-lubang saringan tersebut, maka banyak parutan kelapa yang juga ikut melalui saringan tersebut.
Sehingga pada penyandang autisme, peptida-peptida ini menjadi terserap oleh usus, kemudian mengikuti aliran darah dan mencapai otak oleh karena juga terjadi "kerusakan" pada blood-brain barrier (sawar darah otak).
Di otak terdapat berbagai reseptor, antara lain reseptor morfin. Reseptor ini ibarat sarang kunci kontak mobil, dimana anak kunci yang cocok akan dapat masuk dan men-start mesin mobil tersebut.
Begitu juga dengan morfin, mereka akan memasuki reseptor-reseptornya dan menyebabkan efek/gejala morfinis. Nah, peptida-peptida yang berasal dari casein susu dan gluten terigu "bentuknya" serupa dengan "anak-kunci" morfin, sehingga peptida-peptida ini bisa menempati/memasuki reseptor morfin dan menimbulkan gejala seperti mengkonsumsi morfin.
Oleh karena itu peptida yang berasal dari protein casein susu disebut caseomorphin, dan yang berasal dari glutein terigu disebut gluteomorphin, dan mereka dapat dideteksi dari urin penyandang autisme yang mengkonsumsi susu dan terigu, seperti layaknya tes morfin yang dilakukan pada pengunjung diskotik saat razia oleh polisi/BNN.
Kalender Acara ini juga bisa dibaca di kidaba.com